Kamis, 24 Juni 2010

Perjuangan Nabi Muhammad saw. di Mekkah
Sebuah Rekonstruksi Sejarah)1


Oleh: Dr. Ali Masrur Abdul Ghaffar, M.Ag.

Pendahuluan
Tidak dapat diingkari oleh siapapun bahwa nabi Muhammad saw. adalah manusia terbesar di muka bumi. Kebesarannya tidak hanya diakui oleh orang muslim, tetapi juga oleh orang-orang Barat; tidak hanya diakui oleh para pengikutnya, tetapi juga oleh para lawannya. Nabi Muhammad saw. adalah manusia sempurna (insân kâmil). Memang benar ia adalah manusia biasa, tetapi di sisi lain ia tidak seperti umumnya manusia. Syair Arab mengatakan:
Muhammadun basyarun lâ kalbasyari bal huwa kal yâqûti baina al-hajari
Muhammad adalah manusia, tetapi tidak seperti manusia lainnya. Ia seperti yâqût (batu mulia) di antara batu-batu.

Alquran mengatakan:
Qul Innamâ ana basyarun mitslukum yûhâ ilayya annamâ ilâhukum ilâhun wâhidun. (18:110)

Katakan, “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa seperti kalian yang diberi wahyu bahwasannya Tuhan kalian adalah Tuhan yang Esa.

Kebesaran Nabi Muhammad saw. inilah yang mendorong setiap orang dari dulu hingga kini selalu ingin mengetahui rahasia-rahasia di balik kesuksesannya menyebarkan agama dan menjadi pemimpin umat manusia.

Nabi Muhammad saw. dan Wahyu
Muhammad bin ‘Abdullah dilahirkan dari kalangan keluarga terhormat yang relatif miskin, keturunan suku Quraisy di Mekkah sekitar tahun 570 M. Ayahnya telah meninggal sebelum ia lahir dan ibunya berpulang kerahmatullah ketika ia masih anak-anak. Ia dibesarkan olah pamannya, Abu Thalib, yang meskipun tak pernah mau menerima Islam, tetapi membela keponakannya mati-matian dari sikap permusuhan orang-orang Mekkah yang membenci agama Islam yang baru itu. Ia adalah orang yang jujur, dapat dipercaya dan berakhlak luhur. Khadijah, seorang janda kaya yang lebih tua lima belas tahun daripadanya dan mempekerjakannya untuk mengurus perdagangannya begitu terkesan oleh kejujuran dan akhlaknya sehingga ia meminta Muhammad menjadi suaminya. Muhammad yang waktu itu berusia dua puluh lima tahun menerima permintaan itu dan tidak kawin lagi sampai Khadijah meninggal di saat Muhammad saw. berusia lima puluh tahun. Kita juga tahu bahwa keluhuran budi Muhammad mendorongnya untuk menyepi secara teratur di Gua Hira di luar kota Mekkah untuk berkontemplasi. Proses kontemplasi batiniyah untuk mencapai pengalaman moral-religius ini mencapai puncaknya dengan turunnya wahyu kepadanya pada saat ia sedang tenggelam dalam perenungannya yang dalam.
Wahyu-wahyu awal yang diterima Muhammad saw. tentu saja terkait dengan persoalan ide monoteisme (tauhîdullah), yakni ide tentang keesaan Tuhan dan terkait dengan persoalan humanisme dan rasa keadilan ekonomi dan sosial di kalangan bangsa Arab. Siapapun yang membaca Alquran dengan teliti akan berkesimpulan demikian. Alquran (107) mengatakan,
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang berlaku buruk terhadap anak-anak yatim dan tidak menganjurkan (orang) untuk memberi makan kepada orang miskin. Maka, celakalah orang-orang yang (walaupun) shalat, (namun) lalai dalam shalatnya, orang-orang yang shalatnya hanya riya` (untuk dilihat orang saja) dan menolak (untuk memberikan) pertolongan sehari-hari (bagi yang memerlukannya).

Semangat inilah yang kelak menghasilkan terbentuknya masyarakat Islam di Madinah. Nabi tampaknya menegaskan: satu Tuhan – satu ummat manusia. Perlu digarisbawahi bahwa, baik monoteisme maupun perasaan keadilan sosial-ekonomi, bukanlah sifat khas penduduk kota Mekkah atau bangsa Arab semata; sebaliknya, paham persamaan yang dikemukakan oleh Islam, dalam sifatnya sendiri, betul-betul melampaui ideal nasional manapun juga.
Menurut hadis, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi adalah wahyu berikut:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan; yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup. Akan tetapi, kepada Tuhanmulah semuanya akan kembali. (Alquran 96: 1-8).

Cerita-cerita paling awal tentang Muhammad saw merujuk kepada kenyataan bahwa pengalaman ini terjadi dalam atau disertai oleh suatu keadaan ‘setengah sadar’ atau ‘kwasi mimpi’, karena Nabi diriwayatkan, setelah menceritakan pengalamannya itu, telah mengatakan: “Kemudian aku terjaga”. Bersama dengan berlalunya waktu, Nabi Muhammad saw mulai melancarkan perjuangan yang berat dengan dasar keyakinan-keyakinannya, dan pengalaman-pengalaman menerima wahyu ini menjadi semakin sering, sementara tradisi Islam menjelaskan bahwa pengalaman-pengalaman wahyu Nabi ini (ketika ia menyelam ke relung kesadaran yang paling dalam) biasanya disertai oleh gejala-gejala fisik tertentu.

Perjuangan Nabi Muhammad saw.
Dakwah Nabi Muhammad saw. mendapat tantangan sengit dari warga kota Mekkah terutama dari kelompok penguasa kota tersebut. Mereka tidak hanya takut pada tantangan nabi Muhammad saw terhadap agama tradisional mereka yang politeisme itu, tetapi juga khawatir kalau struktur masyarakat mereka sendiri dan kepentingan dagang mereka, akan tergoyahkan langsung oleh ajaran Nabi Muhammad saw yang menekankan keadilan sosial, yang makin lama makin menjurus dalam kutukannya terhadap riba, dan desakannya mengenai zakat. Segala macam tuduhan dilontarkan kepada nabi: bahwa ia adalah orang yang kesurupan, seorang penyihir, dan bahwa ia kehilangan keseimbangan pikiran.
Sementara perjuangan nabi terus berlangsung, ajaran Nabi sedikit demi sedikit dirumuskan dengan jelas, baik dengan cara mengeksplisitkan teologi dasarnya melalui strategi argumentasi maupun oleh suatu proses kristalisasi kewajiban-kewajiban spesifik yang dikenakan terhadap pengikut-pengikutnya, baik yang menyangkut diri mereka sendiri maupun vis a vis kelompok yang memusuhi mereka.
Secara kronologis, ajaran pertama yang ditanamkan oleh Alquran setelah monoteisme dan keadilan sosial-ekonomi adalah tentang hari pengadilan dan pertangungjawaban akhir dari perbuatan manusia. Manusia tidak hanya pendurhaka, tetapi juga pemberontak yang keras kepala. Karena itu, haruslah ada perhitungan moral di mana hukuman berat disediakan bagi orang-orang yang tidak percaya dan para pelaku kejahatan, sedangkan ganjaran yang besar akan diberikan kepada orang-orang yang shaleh. Sementara itu, tugas nabi adalah menyiarkan risalah dan memberi peringatan dengan tak kenal lelah, siapa tahu mereka akan sadar kembali.
Alquran pada periode Mekkah juga berualng-ulang berbicara tentang kisah Nabi-nabi terdahulu, Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, dan lain-lain, yang juga adalah orang-orang yang dimusuhi masyarakatnya, yang risalahnya pun telah disambut dengan sikap keras kepala oleh sebagian besar masyarakatnya. Kisah-kisah tersebut makin lama makin lengkap dan gambaran nabi-nabi terdahulu itu semakin mempunyai bentuk yang pasti. Mempertanyakan - dari mana sumber-sumber riwayat nabi-nabi di dalam Alquran berasal - tidak penting dalam menegaskan makna dan keaslian risalah nabi. Karena yang utama adalah bagaimana kita bisa memahami fungsi dan makna cerita-cerita tersebut.
Dalam perjuangannya, walaupun pernah mengalami kekecewaan-kekecewaan, Nabi Muhammad saw tak pernah kehilangan harapan untuk meraih keberhasilan dan kemenangan dalam tugasnya. Orang-orang nampaknya menaruh penekanan terlalu banyak pada peristiwa lahiriyah secara rinci dan teliti dalam riwayat hidup nabi, tetapi tidak cukup memberikan perhatian kepada sejarah spiritual batiniahnya yang penuh pergolakan, yang masih harus disusun dengan lengkap. Sebelum Muhammad menerima tugas kenabian, pikirannya selalu terganggu oleh masalah-masalah tentang situasi dan nasib manusia. Hal ini mendorongnya untuk menyepi dan berkontemplasi secara teratur. Dari perjuangan jiwanya yang tak kenal menyerah untuk menemukan jawaban, turunlah wahyu. Tentang hal ini, Alquran mengatakan (94: 1-3): “Tidakkah Kami telah melapangkan kesesakan dadamu dan melepaskan beban yang memberatkan punggungmu?” Dengan demikian, seluruh sejarah batin nabi selanjutnya tergaris antara dua batas, yakni kekecewaan yang disebabkan oleh sikap warga Mekkah, yang merupakan masalah di luar kekuasaannya, dan usaha untuk mensukseskan misinya.
Demikian kuatnya semangat Nabi untuk berhasil hingga Alquran berulangkali menyinggung tentang keadaan dirinya, baik pada periode Mekkah maupun periode Madinah. ‘Tidaklah Kami turunkan Alquran kepadamu (hanya) untuk membuatmu menderita.’ (20:2). Bahwa perhatian Nabi dan keprihatinannya terhadap masyarakat Yahudi dan Kristen di Madinah pada dasarnya adalah sama dengan perhatian dan keprihatinannya terhadap orang-orang kafir Arab di Mekkah.
Nabi tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang diperolehnya untuk melaksanakan rencananya. Musuh-musuhnya, baik ketika di Mekkah maupun di Madinah, yang mengetahui semangat Nabi yang demikian besarnya demi perjuangan kemanusiaan ini, menawarkan kepadanya kesempatan-kesempatan pancingan dengan imbalan konsesi-konsesi dari Nabi, tetapi Alquran terus-menerus memperingatkan Nabi tentang setiap kemungkinan kompromi dan menegaskan perbedaan antara kompromi dan strategi. ‘Mereka ingin, kalau saja engkau mau berkompromi maka mereka juga mau berkompomi.’ (68:9).

Strategi Nabi Muhammad saw.
Di Mekkah Nabi telah memperoleh sekelompok pengikut yang kecil jumlahnya, tapi bersemangat kuat. Namun setelah tiga belas tahun berdakwah dan berjuang terus menerus, tampak jelas bahwa gerakannya menemui jalan buntu. Dan Tampaknya kecil sekali harapan untuk cepat-cepat memperoleh keberhasilan menghadapi perlawanan warga Mekkah yang keras kepala itu. Ketika itulah, orang-orang Madinah mengadakan hubungan dengan Nabi dan mengundangnya untuk pindah ke kota tersebut, dan menjadi pemimpin politik dan agama. Karena alasan ini, tidak mungkin untuk menganggap Nabi telah kehilangan harapan atau ditolak sama sekali di Mekkah, walaupun perjuangannya baru memperoleh kemajuan sedikit saja, dan seperti dikatakan tadi, tampaknya seolah-olah menemui jalan buntu. Seandainya misinya memperoleh kemajuan yang memuaskan, tentulah ia tidak akan meninggalkan Mekkah, karena menguasai kota tersebut yang merupakan pusat keagamaan bangsa Arab, adalah tujuan utamanya. Namun sebaliknya, ia juga bukan sama sekali tidak diikuti orang di Mekkah, karena kalau tidak demikian, jelas orang-orang Madinah itu tidak akan memintanya untuk menjadi pemimpin agama dan politik mereka.
Di Madinah, Nabi mengeluarkan sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas dengan menekankan kerja sama seerat mungkin dengan sesama kaum muslimin, dan menyerukan kepada orang-orang muslim dan Yahudi untuk bekerja sama demi keamanan mereka bersama, dan sejauh menyangkut peraturan dan tata tertib umum, otoritas mutlak diberikan kepada Nabi untuk memutuskan dan mengadili perselisihan-perselisihan di antara mereka. Dalam waktu yang singkat, nabi berhasil membina persaudaraan sejati yang kokoh dan efektis di antara imigran-imigran muslim Mekkah dan kaum muslimin Madinah, suatu fenomena yang menakjubkan ahli-ahli sejarah, baik dahulu maupun sekarang. Setelah keberhasilan ini diperoleh, Nabi beralih pada tugas yang meruapakan faktor yang menentukan dalam misi kerasulannya, yakni menarik Mekkah untuk menerima Islam, dan melalui kota pusat keagamaan ini selanjutnya menyebarkan Islam ke daerah-daerah lain. Karenanya, sejak saat itu, seluruh usaha nabi dikerahkan untuk mencapai tujuan ini. Di Mekkah, ia telah berusaha sekeras-kerasnya, tapi tampaknya tidak ada hasilnya. Dalam semangatnya, ia ingin melakukan strategi dan tindakan-tindakan yang kadang-kadang menjurus kepada bahaya kompromi.
Kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa nabi mempunyai strategi yang jitu, yakni merebut Mekkah terlebih dahulu, untuk kemudian dari kota ini, menyiarkan Islam ke daerah-daerah lainnya. Inilah target utama Nabi yang akan ia jalankan, sekalipun seandainya ia masih di Mekkah. Ada dua faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini: pertama, Mekkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islamlah, Islam bisa tersebar ke luar. Kedua, apabila suku Muhammad sendiri dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy, dengan kedudukan mereka sendiri serta pakta-pakta antarsukunya, mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar. Bahkan dalam periode Mekkah awal, Alquran menyuruh Nabi untuk lebih dahulu mendekati sanak keluarganya yang terdekat dan suku bangsanya.

Kunci Kesuksesan Kepemimpinan Nabi Muhammad saw.
Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Rasulullah saw berlangsung bukan tanpa hambatan. Ia menghadapi hambatan fisik maupun mental. Ia diejek, dicemooh, dihina dan disakiti. Pada malam berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib, rumahnya dikepung oleh orang-orang beringas. Namun hambatan-hambatan itu tidak membuatnya putus asa dan gagal dalam melaksanakan tugas. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu menyelesaikan tugasnya membina satu masyarakat yang sebelumnya dikenal sangat bobrok, serakah, fatalistik, anarkhis dan terpecah belah menjadi satu masyarakat yang ideal, berkeadilan dan sejahtera dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, kita seharusnya bertanya, apa kunci kesuksesan kepemimpinan Rasulullah saw. selain karena petunjuk, bantuan, dan perlindungan Allah swt. Paling tidak ada beberapa hal yang perlu dikemukakan di sini.
Pertama, akhlak Nabi yang terpuji tanpa cela. Muhammad saw. sejak muda sebelum diangkat menjadi rasul terkenal lemah lembut, namun penuh daya vitalitas, berakhlak mulia, jujur, dan tidak mementingkan diri sendiri atau sukunya. Sejak muda, Muhammad saw. telah mendapat gelar al-amîn, karena kejujurannya. Karena kejujurannya pula, ia mendapat kepercayaan dari Khadijah yang kemudian menjadi istri dan pendukungnya untuk membawa dagangannya ke Syria. Karena terkenal jujur dan keyakinan tidak akan berpihak, maka majlis Hilf al-Fudhul mempercayakan kepadanya untuk memutuskan siapa yang akan meletakkan hajar aswad pada tempatnya setelah Kakbah selesai direnovasi.
Kedua, karakter Nabi yang tahan uji, tangguh, ulet, sederhana dan bersemangat baja. Rasulullah saw. walaupun sejak lahir sudah dalam keadaan yatim, dan lahir dari kalangan suku yang terkemuka dan cucu dari pimpinan suku, tetapi ia tidak mau hidup manja dan menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Sejak kecil, ia ikut menggembalakan ternak keluarga dan pada usia dua belas tahun, ikut membantu pamannya berdagang, melawat ke Syria, satu perjalanan sulit dan cukup berbahaya pada waktu itu. Sikap percaya diri dan pengalaman hidup yang penuh perjuangan telah menggembleng dirinya menjadi seorang pemimpin yang tidak akan surut dalam perjuangan.
Ketiga, sistem dakwah Nabi yang menggunakan metode imbauan yang diiringi dengan hikmah kebijaksanaan. Nabi menyeru manusia agar beriman, berbuat yang shaleh dan mencegah kemungkaran tanpa unsur paksaan sedikitpun. Allah swt sendiri memerintahkan, La ikrâha fî al-dîn (tidak ada paksaan dalam agama). Ketika Nabi berhasil merebut kota Mekkah dan memegang pucuk pimpinan, Nabi tidak melakukan tindakan balasan apapun terhadap orang-orang yang pernah mengejek, mencemooh, dan menyakitinya.
Keempat, tujuan perjuangan Nabi adalah sangat jelas yakni ke arah penegakan keadilan dan kebenaran serta menghancurkan yang batil, tanpa pamrih kepada harta, kekuasaan dan kemuliaan duniawi. Nabi menolak tawaran para pemuka Quraisy Jahili untuk menukar gerak perjuangannya dengan harta, tahta, dan wanita.
Kelima, prinsip persamaan derajat. Nabi dalam pergaulan sehari-hari, bersikap sama terhadap semua orang. Tutur sapanya, lemah lembutnya, senyum manisnya, tidak berbeda antara satu dengan yang lain. Antara yang kaya dan yang miskin, antara yang lemah dan yang kuat, antara musuh dan sahabat. Ia tidak pernah menghardik, menghina, atau bermuka masam kepada siapapun.
Keenam, prinsip kebersamaan. Nabi dalam menggerakkan orang berbuat tidak hanya memberikan perintah, tetapi ia sendiri ikut terjun memberikan contoh. Ketika masyarakat Madinah membangun masjid Kubah yang sekaligus pula akan menjadi tempat kediamannya, ia ikut menyingsingkan lengan baju dan jubahnya untuk mengangkut tanah liat yang akan dijadikan sebagai dinding masjid.
Ketujuh, mendahulukan kepentingan dan keselamatan pengikut atau anak buah. Ketika sikap permusuhan orang-orang Quraisy Jahili sudah sampai pada tahap sadistis, Nabi memerintahkan sebagian kaum muslimin berhijrah ke Abbesynia, Habasyah, demi keselamatan iman dan fisik mereka, sedangkan Nabi sendiri beserta beberapa orang sahabat lain termasuk Abu Bakar, Umar, dan Ali tetap tinggal di Mekkah menghadapi segala macam cobaan dan resiko.
Kedelapan, memberi kebebasan berkreasi dan berpendapat serta pendelegasian wewenang. Nabi bukan pemimpin otokratis dan militeristis. Selain wewenang kerasulan yang hanya diperuntukkan bagi dirinya oleh Allah swt., wewenangnya selaku pemimpin umat dan negara sebagian ada yang didelegasikan kepada pejabat bawahannya. Selain itu, nabi memberikan kebebasan berpendapat kepada sahabat yang diangkat menduduki suatu jabatan.
Kesembilan, Nabi adalah pemimpin kharismatis dan demokratis. Muhammad saw memang orang yang terpilih untuk ditugaskan sebagai rasul. Karena itu, kepadanya dikaruniakan kharisma yang memikat dan memukau. Gerak dan langkahnya terlihat indah. Tutur katanya menggetarkan hati dan terasa sejuk. Kekuatan kharismatis yang ia peroleh tidak dibangun melalui jalan pengkultusan atau menempuh upaya-upaya tertentu. Kewibawaan yang dimilikinya bukanlah kewibawaan semu, tetapi kewibawaan murni yang lahir dari kebenaran dan kemurnian misi yang diembannya. Kepatuhan orang kepada dirinya bukanlah karena terpaksa atau takut, tetapi karena rela. Orang patuh kepada perintah dan larangannya yang hampir seluruhnya berasal dari Allah swt. Bukan hanya ketika berada di depannya, tetapi juga ketika sendirian dan bersembunyi.
Kepemimpinan rasul juga bertipe demokratis, suatu tipe kepemimpinan yang dikehendaki dan dianggap ideal pada zaman modern ini. Sesuai dengan perintah Allah swt., rasul selalu bermusyawarah dalam hal-hal yang mengatur hubungan antar manusia, mu’âmalah atau hal-hal yang bersifat duniawi, yang tidak ada ketentuan langsung dari Allah swt.
Sifat demokratis kepemimpinan nabi ini ditunjukkan pula oleh sikapnya yang terbuka terhadap kritik dan mendengar pendapat dan saran orang lain. Sikap mendengar pendapat dan saran orang lain ditunjukkan oleh hadis yang menyatakan, “Terimalah nasehat walaupun datang dari seorang budak hitam.”

Kesimpulan
Berbagai informasi tentang sejarah hidup Nabi Muhammad saw. yang telah diungkapkan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa sebuah misi apapun, termasuk juga misi agama, dapat berhasil bila didukung oleh SDM-SDM yang cukup handal yang memiliki sifat-sifat seperti Nabi saw. Yang terpenting dari itu semua adalah bahwa Nabi dapat berhasil karena empat hal: 1) karakter Nabi yang mulia dan terpuji; 2) perjuangannya yang dilakukan terus-menerus tanpa putus asa dan tanpa pamrih; 3) strateginya yang sangat jitu; dan 4) dan kedekatannya dengan Allah swt. memberikan kekuatan spiritual yang sangat dahsyat dalam rangka menopang dan mewujudkan tugas yang maha berat tersebut. Mudah-mudahan kita bisa meneladaninya. Âmîn yâ mujîb al-sa`ilîn.
Gagasan Pembaharuan Islam
Sayyid Ahmad Khan
Berdasarkan Teks dalam Zu’amâ` al-Ishlâh
fî al-‘Ashr al-Hadîts, Karya Ahmad Amîn)

Oleh: Dr. Ali Masrur, M.Ag.

Dalam buku Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan,1 ketika berbicara tentang pembaharuan di Kerajaan Utsmani, Harun Nasution menyebutkan tiga golongan pembaharuan yang muncul di Turki. Mereka adalah golongan Barat, Islam dan nasionalis. Golongan Barat berpendapat bahwa kelemahan dan kemunduran Turki disebabkan oleh kebodohan dan kemunduran orang Turki sendiri. Berbagai tradisi dan institusi lama yang sudah ketinggalan zaman, mata yang tidak mau melihat dan akal yang malas berpikir adalah hal-hal yang menjadi penyebab kemunduran orang Turki. Di hadapan mereka terdapat selubung yang menutupi mata dan pikiran mereka. Selubung itu tiada lain adalah syariat yang telah mengungkung segala segi kehidupan bangsa Turki. Menurut golongan ini, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ini, bangsa Turki harus mencontoh Barat karena Barat adalah guru. Sebagai murid yang baik, bangsa Turki harus mencintai guru mereka dan sebagai konsekwensinya mereka mestinya mencintai pengetahuan dan kemajuan yang telah dicapai oleh peradaban Barat. Bagi mereka, peradaban hanya satu, yakni peradaban Barat yang harus ditiru dan diambil oleh bangsa Turki.2
Lawan dari golongan Barat adalah kelompok Islam. Kelompok ini berpendapat bahwa sebab dari kemunduran bangsa Turki bukanlah syariat karena agama tidak pernah menjadi penghambat kemajuan. Bagi mereka, penyebab dari kelemahan orang Turki adalah tidak diterapkannya syariat di Kerajaan Utsmani. Oleh karena itu, obatnya adalah pemberlakuan syariat di segala aspek kehidupan bangsa Turki. Kelemahan lainnya adalah adanya golongan Barat yang suka meniru kebudayaan Barat tanpa reserve. Secara tegas, golongan Islam menuduh golongan Barat telah melakukan gerakan westernisasi.3
Golongan nasionalis sebagai kelompok ketiga berpendapat bahwa kelemahan bangsa Turki disebabkan oleh keenggganan umat Islam untuk mengakui adanya berbagai perubahan dan perkembangan dalam kehidupan mereka. Sebagai akibatnya, mereka merasa tidak perlu melakukan reinterpretasi atas berbagai ajaran Islam. Sebab lainnya adalah hilangnya kebudayaan nasional Turki karena dikalahkan dengan peradaban Islam. Cara menyembuhkannya adalah dengan menghilangkan berbagai institusi lama yang dipandang tidak perlu karena peradaban Islam yang mengembangkan institusi-institusi itu juga telah m\engalami kemunduran. Meskipuh demikian, kebudayaan nasional yang akan dihidupkan kembali harus dijiwai oleh semangat Islam. Golongan ini tidak setuju denngan golongan Barat yang ingnin mencontoh Barat dalam segala hal. Unsur-unsur peradaban barat yang posistif dapat digunakan sebagai model untuk membentuk kebudayaan nasional Turki moderen. Kebudayaan nasional ini bukanlah syariat, bukan pula kebudayaan Turki sebelum Islam dan bukan pula kebudayaan Barat.4
Di India pada awal abad sembilan belas hingga pertengahan abad dua puluh muncul beberapa tokoh dan gerakan pembaharuan Islam. Di antara tokoh-tokoh yang melancarkan pemikiran-pemikiran pembaharuan itu adalah Sayyid Ahmad Khan (1817-1888), Sayyid Amir Ali (1849-1928), Maulana Muhammad Ali (1878-1931), Muhammad Iqbal (1876-1938), Muhammad Ali Jinnah (1876-1915), dan Abul Kalam Azad (1888-1958).5
Di antara para pembaharu yang disebut di atas, Ahmad Khan adalah tokoh yang memiliki pandangan yang luas dan sekaligus liberal dalam menyuarakan gagasan-gagasan pembaharuannya. Jika kita menggunakan tiga kategori yang diajukan Harun Nasution tentang aliran pembaharuan Islam di Turki untuk menyoroti pemikiran pembaharuan Sayyid Ahmad Khan, maka akan timbul pertanyaan, apakah Ahmad Khan termasuk golongan Islam, Barat, atau Nasionalis. Persoalan itulah yang akan dicari jawabannya dalam tulisan berikut ini.
Biografi Sayyid Ahmad Khan
Meskipun bukan merupakan sebuah keharusan untuk membicarakan biografi seorang tokoh jika kita mengkaji pemikirannya,, tetapi setidak-tidaknya latar belakang kehidupannya membuat para pembaca lebih mudah untuk memahami ide-idenya. Bagaimanapun juga, sebuah pemikiran merupakan respon terhadap tantangan zaman yang dialami dan dihadapi oleh seorang pemikir. Oleh karena itu, pengalaman hidupnya menjadi tidak dapat dipisahkan dengan pemikirannya.
Sayyid Ahmad Khan b. al-Muttaqi b.. al-Hadi al-Hasani al-Dahlawi dilahirkan pada tanggal 17 Oktober 1817 M/1232 H di kota Delhi. Nenek moyangnya yang berasal dari Iran sangat terkenal di medan perang. Mereka menganggap dirinya memiliki karamah karena masih merupakan keturan Nabi Muhammmad saw. kakek Ahmad Khan yang pada mulanya menjadi panglima perang di kemudian hari diberi kedudukan agamis semi-hakim oleh kaisar Mughal.
Ayah Ahmad Khan yang bernama al-Muttaqi adalah seorang sufi dan pemimpin agama yang karena keturunan sayyid maka ia berpengaruh besar dan sangat dihormati oleh raja Mughal saat itu, Akbar Syah II. Ayahnya adalah orang yang dingin, suka berterus terang, pandai memanah dan berenang, serta sangat erat hubungannya dengan Syaikh Ghulam Ali Naqshabandi Mujaddidi, seorang wali setempat yang sangat terkenal. Hubungan Syaikh Ghulam Ali dengan keluarga al-Muttaqi begitu dekatnya sehingga Syaikh Ghulam Ali yang tidak dikaruniai anak biasa mengatakan, “Anak-anak Muttaqi seperti anak saya sendiri.” Pada saat Ahmad Khan lahir, ayahnya membawanya kepada syaikh tersebut dan diberikan nama Ahmad olehnya. Ketika Ahmad menginjak usia sekolah, pada mulanya ia dibawa kepada syaikh itu untuk diajarkan huruf Arab. Dalam suasana agamis yang meliputi ayahnya dan Syaikh Ghulam Ali, Ahmad kecil berkembang menjadi anak yang taat pada agama.6
Pemahamannnya yang mendalam tentang persoalan-persoalan kenegaraan dan perhatiannya pengetahuan dan peradaban Barat, ia banyak dipengaruhi oleh kakek dari pihak ibunya, Khwaja Fariduddi, yang kraung lebih selama delapan tahun menjadi perdana menteri diistana Mughal. Khwaja Fariduddin meninggal dunia sewaktu Ahmad Khan masih kanak-kanak. Namun pengaruh yang diitanamkannya untuk membentuk kebiasaan dan watak kepada cucunya sungguh tidak kecil. Karena bapak dan ibunya tinggal di rumah kakeknya itu, maka Ahmad Kkahan yang cerdas itu dappat melihat dari dekat kehidupan sehari-harai dan latar belakang sosilan dan politik dari seorang Menteri Mughal. Di kemudian hari, Ahmad Khan menulis bipografi Khwaja Fariduddin, yang tidak hanya menunjukkan sikap penghormatan kepada kakeknya, tetapi juga menyiratkan suasanan kebahagiaan, kedisiplinan, dan kebersihan di masa kecilnya.7
Di masa kecilnya, diduga bahwa kekuatan intelektual Ahmad Khan berkembang sanngat lamban dan ppada wakktu kanak-kanak dan remaja, ia ditandai dengan pertumbuhan yang sangat kuat dan lebih aktif di luar rumah daripada kegiatan intelektual. Pendidikan yang diperolehnya di waktu kecil tampaknya tidak mendalam dan sistematis. Namun di bawah asuhan seorang ibu yang bijaksana, cerdas dan pandai dalam mendidik anak-nakanya, ia memperoleh pengetahuan yang cukup. Selain itu, ia mengembangkan cinta yang sebenarnya kepada belajar yang memungkinkannya untuk melengkapi pengetahuannya di waktu muda. Dalam perjalanan selanjutnya, ia tidak hanya menjadi pemimpin politik, tetapi juga pemimpin intelektual bagi rakyatnya.8
Ahmad Khan menjalani hidupnya dalam kesenangan dan kecukupan. Namun setelah kakeknya meninggal, kekayaan keluarganya mulai menurun. Lebih-lebih setelah ayahnya meninggal pada tahun 1838, ekonomi keluarganya semakin merosot. Ahmad Khan yang masih muda itu mulai mencari penghidupannya sendiri. Pada awalnya, ia diangkat sebagai juru tulis rendahan, tetapi setelah itu ia diangkat sebagai munsif (wakil hakim) di Fatihpur Sikri pada tahun 1841,9 kemudian dipindahkan di Bignaur. Karena jasa-jasanya kepada Inggris, pada tahun 1969 M, ia mendapat kehormatan pergi ke negeri Inggris untuk menyaksikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di sana. Sekembalinya di India pada tahun 1870, kegiatannya untuk memajukan umat Islam India semakin meningkat. Ia menerbitkan majalah Tahdzîbul Akhlâq (1870), mendirikan sekolah dengan nama Muhammadan Anglo-Oriental College (1875), yang kemudian berkembang menjadi Universitas Aligarh. Kemudian ia diangkat sebagai anggota Dewan Legislatif selama empat tahun (1878-1882 M). Untuk melaksanakan ide pembaharuannya di bidang pendidikan, ia mendirikan sebuah lembaga yang bernama All India Muhammadan Education Confrence (1886) yang menyelengarakan pertemuan tokoh-tokoh pendidikan Islam di India setiap tahun.10
Selama hidupnya, Ahmad Khan menerima banyak penghargaan dari Kerajaan Inggris atas berbagai jasa dan prestasinya. Pada tahun 1864, ia diangkat menjadi anggota kehormatan dari Royal Asiatic Society di London karena keahliannya yang monumental di bidang sejarah yang ditulis dalam bukunya, Athar al-Sanadid (1847), hasil penelitiannya tentang arkeologi di India dan sekitarnya.11 Pada tahun 1886, ia dianugerahi gelar kebangsaan Inggris (Sir) dan pada tahun berikutnya (1888) ia memperoleh gelar Doktor HC dari Universitas Edinburg di bidang ilmu hukum.
Selain sebagai seorang mujaddid di bidang keagamaan dan pendidikan, Ahmad Khan juga seorang penulis yang produktif. Karangannya berkisar tentang persoalan sejarah dan keagamaan. Tidak kurang dari 36 karyanya telah diterbitkan. Di bidang sejarah, selain buku Athar al-Sanadid (1847) yang telah disebutkan di atas, karyanya yang lain adalah Jam-I Jam (1840) yang berisi sejarah ringkas keluarga raja-raja Mughal sejak berdirinya hingga rajanya yang terakhir, Sultan Bahadur Syah II dan Essays on the Life of Muhammad (1870). Sementara karya-karyanya di bidang keagamaan yang terpenting adalah: Tafsîr al-Qur`ân yang terbit ppada tahun 1880 (jilid I), 1882 (jilid II), 1885 (III), 1888 (IV), 1892 (V) dan 1895 (VI), Ibthâl al-Ghulâm (1890) tentang penghapusan perbudakan dalam Islam, Tabyîn al-Kalâm (1862) tentang Bibel dan persoalan lainnya. Pada tanggal 27 Maret 1888, Sir Sayyid Ahmad Khan wafat setelah menderita sakit beberapa lama pada usia 81 tahun dan dimakamkan di Aligarh.12

Gagasan pembaharuannya di bidang pendidikan dan keagamaan
Sayyid Ahmad Khan memandang Inggris sebagai musuh yang terhormat dan berperadaban tinggi. Menentang kekuasaan Inggris tidak membawa kebaikan bagi umat Islam India, bahkan membuat Umat Islam India tetap mundur dan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India. Oleh karena itu, untuk memajukan umat Islam India, Ahmad Khan menganjurkan upaya saling memahami di antara keduanya. Dengan demikian, umat Islam India dapat belajar dan mengambil hal-hal yang positif dari bangsa Inggris untuk kemaslahatan umat. Dan jika umat Islam telah mengetahui hak-haknya, maka pastilah mereka akan menuntut hak-hak itu.13
Inilah perbedaan Sayyid Ahmad Khan dengan Sayyid Jamaluddin al-Afghanî dalam sikapnya terhadap Inggris dan kolonialisme. Al-Afghani menganjurkan untuk membenci Inggris dan memusuhinya sekuat tenaga. Sementara Ahmad Khan lebih suka bekerja sama dengan bangsa Inggris demi kemajuan India. Oleh karena itu, upaya saling memahami antara bangsa India dan Inggris merupakan masalah yang pertama dan utama. Ahmad Khan tidak henti-hentinya memberikan pemahaman kepada pihak Inggris bahwa mereka memiliki kewajiban untuk memajukan dan membangkitkan bangsa yang mereka pimpin. Mereka tidak hanya berkewajiban memajukan proyek-proyek fisik material demi pengentasan kemiskinan bangsa India, tetapi juga harus memajukan pikiran mereka dan membebaskannya dari belenggu kebodohan.
Sikap semacam ini, tentu lebih dekat dengan sikap Muhammad ‘Abduh. Keduanya sama-sama berpendapat bahwa reformasi yang sebenarnya adalah reformasi nalar disertai dengan perbaikan moral dan peradaban. Bagi keduanya, kemerdekaan tidak akan diperoleh oleh bangsa yang bodoh dan terbelakang. Oleh sebab itu, tiang kemeredekaan tiada lain adalah ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan umum maupun agama. Ahmad Khan selanjutnya mengajak bangsa India untuk menguasai segala ilmu pengetahuan untuk membangun sebuah peradaban yang megah. Dengan ilmu pengetahuan itu, akal bangsa India menjadi tercerahkan dan tidak terbelenggu. Bagi Ahmad Khan, agama tidak melarang umatnya untuk mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan, tetapi justru agama membangkitkan dan mendorong umatnya untuk berfikir dan merenungkan segala ciptaan Tuhan.
Ahmad Khan dan ‘Abduh mengamati bahwa India dan Mesir berada di bawah kekuasaan Inggris yang sangat kuat. Mereka memiliki gudang-gudang senjata dan unggul dalam ilmu pengetahuan dan politik. Tidak mungkin bangsa India dan Mesir mampu melawannya. Mereka dapat melakukan perlawanan jika mereka bersatu. Namun mana mungkin mereka bersatu, sementara mereka adalah orang-orang bodoh dan sekaligus rendah moralnya.14 Lalu Ahmad Khan seolah bertanya-tanya, apa sebab bangsa India terbelenggu dalam kebodohan, kesempitan pikiran, dan sekaligus terjerembab dalam kemiskian? Ahmad Khan kemudian menarik kesimpulan bahwa problem mendasar yang harus segera diatasi adalah problem pendidikan.
Secara tegas Ahmad Khan membedakan antara pendidikan (tarbiyyah) di berbagai universitas yang didirikan oleh pemerintah Inggris dan pengajaran (ta’lîm) di berbagai sekolah tradisional di India. Sebagaimana terdapat dalam uraiannya di bawah ini:
Anak-anak di sekolah Inggris dididik dan diajarkan peradaban, sementara di sekolah-sekolah India, mereka hanya belajar. Sangat jauh perbedaan antara pendidikan dan pengajaran. Para pemuda di berbagai perguruan tinggi India kehilangan moralitasnya karena tinggal di tengah kota yang menggoyahkan (moral mereka). Di universitas-universitas India ini, tidak ada perhatian pada moral, etika, dan agama. Para guru berkeyakinan bahwa tugas mereka selesai dengan selesainya proses pengajaran. Cita-cita para pemuda hanya dibatasi oleh tugas-tugas dari lembaga tersebut tanpa memikirkan tugas-tugas mereka sendiri dan tugas-tugas untuk umatnya.”15

Dari sini, ia mulai meletakkan dasa-dasar dan metode-metode pendidikan yang diinginkannya. Berdasarkan pengalamannya ketika meninjau kemajuan dunia pendidikan di Universitas Cambridge dan Oxford, Inggris, Ahmad Khan mendambakan umat Islam dapat mendirikan universitas semacam itu. Pada tahun 1975, Ahmad Khan mendirikan Muhammadan Anglo Oriental College (MAOC) sebagai pengembangan ide pembaharuan di bidang pendidikan. Atas permintaannya, pemimpin MAOC yang pertama adalah seorang intelektual Inggris, Mr. Thedora Back. Sejak tahun 1879, MAOC dikelola seperti Collage di Cambridge. Kebanyakan pimpinan dan staf pengajarnya berbangsa Inggris dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris.16 Tujuan didirikannya MAOC antara lain: pertma, memberikan pengetahuan tentang peradaban barat dan Timur tanpa sikap fanatis dan statis; kedua, memberikan kehidupan kampus yang kondusif sehingga para pelajarnya tidak dikhawatirkan terpengaruh oleh budaya kota yang membahayakan iman dan kepribadian mereka; dan ketiga memberikan pendidikan terpadu antara pendidikan, penalaran, pendidikan jasmana, dan pendidikan moral.17 Pada tahun 1886, ia mendirikan All India Muhammadan Educational Confrence, suatu lembaga yang memhimpun para intelektual muslim India dan mengadakan seminar setahun di kota-kota tertentu di bawah pimpinan Ahmad Khan senndiri. Foorum seminar banyak membicarakan berbagai persoalan sosial umat Islam, terutama masalah pendidikan.18
Sampai di sini tampak jelas bahwa pembaharuan Ahmad Khan di bidang pendidikan sangat dipengaruhi oleh model pendidikan di Barat, khususnya pendidikan di Inggris. Ia tidak pernah melihat adanya pertentangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban di Barat dengan nilai-nilai Islam. Sebaliknya, ia melihat bahwa tidak ada pertentangan antara Islam dan peradaban Barat.19 Ia sangat kagum dengan tradisi keilmuan di Barat, khususnya di Inggris, yang sedemikian maju. Model dan metode pendidikan yang dicanangkannya lebih merupakan integrasi antara nilai-nilai Islam dengan peradaban Barat yang positif. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa Ahmad Khan termasuk ke dalam golongan Barat, yakni aliran pembaharuan yang ingin menjadikan kemajuan peradaban Barat sebagi coontoh dan model pembaharuannya.
Berbagai lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ahmad Khan telah berhasil meluluskan generasi muslim yang baru dan berperadaban tinggi serta dibekali dengan wawasan yang luas dan sikap toleran dalam beragama. Para lulusannya yang tersebar di penjuru India membawa ajaran-ajaran Ahmad Khan dan mengajarkannya ke seluruh India. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, nama Aligarh tidak hanya menunjukkan sebuah universita, tetapi juga menunjukkan sebuah model nalar yang tercerahkan dan nilai moral dan sosial yang tinggi.20
Ahmad Khan juga melalukan pembaharuan di bidang keagamaan. Dalam masalah agama, umat Islam mengalami stagnasi dalam pemikiran agama serta tidak berorientasi pada kehidupan nyata. Mereka hanya menerima pelajaran Islam tradisional yang jumud dan membawa kepada sikap fatalisme. Para ulama tradisional tidak mau menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Barat yang dibawa oleh Inggris. Bahkan masyarakat India diisolasi dengan menyatakan budaya Barat sebagai “kebudayaan kafir”. Sebagai akibatnya, umat Islam India enggan memasuki sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintahh Inggris karena khawatir iman dan akhlak merekka tterganggu. Sementara di pihak lain, golongan Hindu banyak memanfaatkan untuk bersekolah di sekolah-sekolah tersebut sehingga dapat melahirkan orang-orang pandai yang mampu menduduki jabatan penting dipemerintahan. Sedangkkan golongan Islam tidak dapat memanfaatkan lowongan jabatan tersebut disebabkan oleh kebodohannya sendiri.21
Pembaharuan Ahmad Khan di bidang pemahaman ajaran agama sungguh sangat liberal pada saat itu. Pembaharuannya tidak hanya mencakup masalah Quran dan hadis, tetapi juga masalah teologi dan hukum Islam. Mengenai Quran, Ahmad Khan berpendapat bahwa mukjizat Quran terletak pada maknanya, bukan pada lafazhnya. Karena yang diturunkan melalui hati nabi adalah makna Quran sedangkan lafazhnya berasal dari Nabi Muhammad saw.22 Sebagai kalam Tuhan, Quran tidak mungkin bertentangan dengan hukum alam karena perkataan Tuhan tidak mungkin bertentangan dengan perbuatan Tuhan.. Hukum alam yang dikenal sebagai natural laws di Barat dalam Quran disebut sebagai sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Ilmu Pengetahaun di Barat maju karena para ilmuwan barat mampu menemukan hukum-hukum alam yang berlaku tetap.
Mengenai hadis, Ahmad Khan menerimannya dengan sangat kritis. Ia mengkritik tajam metode kritik hadis klasik dan akhirnya menyimpulkan bahwa hanya hadis yang berkaitan dengan masalah spiritual saja yang relevan dengan muslim kontemporer. Hadis-hadis yang terkait dengan persoalan duniawi tidaklah mengikat. Tanpa menolak otoritas sunnah sama sekalai, ia sangat membatasi ruang lingkuppnya, mengimbau untuk mencari mmetode baru guna menilainya serta menekankan posisinya yang subordinat dari Quran.23
Dalam masalah hukun, Ahmad Khan berpendapat bahwa yang menjadi dasar bagi sistem perkawinan dalam Islam adalah sistem monogami dan bukan sistem poligami sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama tradisional. Poligami hanyalah pengecualian bagi sistem monogami. Poligami sama sekkalai tidak dianjurkan, tetapi dibolehkan dalam kasus-kasus tertentu. Hukum potong tangan bagi pencuri bukan merupakan hukum yang wajib dijalankan,, tetapi hanya merupakan hukum yang maksimal yang dapat dijatuhkann dalam keadaan tertentu. Perbudakan dalam Quran hanya terbatas pada hari-hari pertama perjuangan Islam. Setelah pembukaan kota Mekkah, perbudakan tidak diperbolehkan lagi. Tujuan doa adalah merasakan kkehadiran Tuhan ialah merasakan kehadiran Tuhan. Jadi, doa hanya diperlukan untuk ketentraman jiwa. Ia menolak anggapan bahwa tujuan doa adalah meminta sesuatu dari Tuhan dan Tuhan akan mengabulkan permintaan tersebut karena kebanyakan doa tidak dikabulkan Tuhan.24
Ahmad Khan menyerang sikap taqlid umat Islam terhadap pendapat-pendapat para ahli hukum masa lampau. Menurutnya, sumber ajaran Islam hanyalah Quran dan hadis. Pendapat umat Islam di masa lampau tidak mengikat generasi Islam sekarang. Sebagai gantinya, ia menganjurkan ijtihad dengan menggunakan ilmu pengetahuan moderen sebagai bekalnya. Masyarakat senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan. Oleh karena itu, adalah kewajiaban setiap generasi untuk memikirkan kembali hukum syariat yang lebih sesuasi dengan tuntutan zaman.25
Selain itu, Ahmad Khan juga sangat menghargai akal dan kebesan bertindak bagi manusia. Akal adalah pemberian Tuhan yang tidak diberikan kepada makhluk selain manusia. Manusia harus menggunakan akal sebaik-baiknya karena hanya dengan cara itu manusia mencapai kemajuan dalam hhidupnya. Baginya, manusia memiliki kebebsan berkehendak dan berindak (free will dan free act). Ia menolak adanya takdir yang telah ditentukan Tuhan bagi manusia karena hal itu bertentangan dengan kebebasan manusia yang harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Faham fatalisme telah menyebabkan kemunduran bagi rakyat India dan oleh karena itu paham tersebut harus diberantas.26
Pembaharuannya di bidang keagamaan juga banyak bersumber dari kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Barat. Pandangannya tentang kedudukan akal yang begitu tinggi diilhami oleh kenyataan bahwa Barat dapat mencapai kemajuan pesat karena mereka menghargai akal dengan cara menggunakannya secara optimal. Demikian pula, ide-idenya tentang perlunya mempelajari hukum alam mengambil inspirasi dari pengalammnya bahwa orang-orang Barat mampu menemukan hukum-hukum alam dan kemudian memanfaatkannya untuk kesejahteraan umat manusia.

Kesimpulan
Analisis atas ide-ide pembaharuan Ahmad Khan tersebut di atas mengarah pada kesimpulan bahwa Ahmad Khan dapat dikategorikan sebagai seorang pembaharu yang beraliran Barat jika kita memakai kategorisasi Harun Nasution. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Ahmad Khan adalah seorang pembaharu yang mengambil dan menerapkan unsur-unsur positif dalam peradaban Barat demi kemajuan umat Islam India. Lebih dari itu, ia ingin menyelaraskan nilai-nilai Islam dengan peradaban Barat, karena menurutnya, tidak ada pertentangan antara ajaran Islam dan peradaban Barat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika model pendidikan yang didirikannya adalah model Barat dan bahasa pengantarnya pun bahasa Inggris. Dari data-data di atas tampak jelas bahwa dua bidang garapannya: bidang pendidikan dan bidang keagamaan dibangun kembali dengan cara memadukan antara substansi ajaran Islam dengan kemajuan ilmu pengetahun dan peradaban Barat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Ahmad Khan adalah seorang pemikir pembaharu yang mampu menyatukan Islam dan Barat dalam sebuah konsep yang terpadu dan seimbang.


Daftar Pustaka

Ahmad Amîn. Zu’amâ` al-Ishâh fî ‘Ashr al-Hadîts. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, Tanpa tahun.

Blumhardt. “Ahmed Khân”, dalam First Encyclopaedia of Islam 1913-1936. eds. M. Th. Houtsma, T.W. Arenold and Others. Leiden: Brill, 1987.

Brown, Daniel W. Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, terj. Jaziar Radianti dan Entin Sriani Muslim. Bandung: Mizan, 2000.

Departemen Agama R.I. Ensiklopedi Islam Indonesia. Artikel “Ahmad Khan, Sayyid (1817-1888)”. Jakarta: Departemen Agama R.I., 1992/1993.

Mukti Ali, A. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. Bandung: Mizan, 1996.

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Smith, Wilfred Cantwell. Modern Islam in India: A Social Analysis. New Delhi: Usha Publications, 1979.

Selasa, 30 Maret 2010

DATA LULUSAN PROGRAM DOKTOR (S3) PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA TAHUN 2002 S.D. 2005

1.Dr. Zulkifli, M.A
89134/S3
STAIN Sjech Jamil Djambek Bukitinggi
5 Januari 2002
AL ‘URF DAN PEMBAHARUAN DALAM HUKUM ISLAM

2. Dr. H. Abd Salam Arief, M.A.
86072/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
30 Januari 2002
IJTIHAD SYAIKH MAHMUD SYALTUT:
Kajian Pemikiran Hukum Islam

3. Dr. Muhaimin, M.A.
87086/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
1 April 2002
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA:
Suatu Kajian Tipologis

4. Dr. H.M. Muchoyyar HS., M.A.
83010/S3
IAIN Walisongo Semarang
19 Juni 2002
TAFSIR FAIDL AL-RAHMAN FI TARJAMAH TAFSIR KALAM MALIK AL-DAYYAN
KARYA K.H.M. SHALEH AL-SAMARANI
(Suntingan Teks, Terjemahan dan Analisis Metodologi)

5.Dr. H. Mahdini, M.A.
89126/S3
IAIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru
20 Juni 2002
KONSEP RAJA DAN KERAJAAN DALAM TSAMARAT AL-MUHIMMAH KARYA RAJA ALI HAJI
(Analisis Intertekstualitas)

6.Dr. H. Achmadi
97313/DBT
IAIN Walisongo Semarang
5 Oktober 2002
MUHAMMADIYAH PASCAKEMERDEKAAN:
Pemikiran Keagamaan dan Implikasinya dalam Pendidikan

7.Dr. H. Ahmad Abdul Syakur, M.A.
85050/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
12 Oktober 2002
ISLAM DAN KEBUDAYAAN SASAK
(Studi tentang Akulturasi Nilai-nilai Islam ke dalam Kebudayaan Sasak)

8.Dr. Nurjannah, M.Ag.
963048/S3
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
19 Oktober 2002
WANITA DALAM SURAT AL-NISA
(Kajian terhadap Tafsir al-Thabari, al-Razi dan al-Manar)

9.Dr. Hamim Ilyas, M.A.
90138/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
26 Oktober 2002
PANDANGAN MUSLIM MODERNIS TERHADAP NON-MUSLIM
(Studi Pandangan Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Rida terhadap Ahli Kitab dalam Tafsir al-Manar)

10.Dr. Siswanto Masruri, M.A.
84035/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
4 Januari 2003
MENUJU HUMANITARIANISME:
Studi Evolusi Pola Pemikiran Kemanusiaan Soedjatmoko

11.Dr. Muhammad, M.Ag.
933006
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
11 Januari 2003
PERBANDINGAN ANTARA PENAFSIRAN MUHAMMAD RASYID RIDHA DAN SAYYID QUTHB TENTANG JIHAD DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA DENGAN MASYARAKAT INDONESIA

12.Dr. Suyudi, M.Ag.
933014/S3
STAIN Ponorogo
29 Maret 2003
PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN (Telaah Epistemo-logis dengan Pendekatan Bayany, Burhany, dan ‘Irfany)

13.Dr. Sri Suhandjati
96305/DBT
IAIN Walisongo Semarang
19 April 2003
AJARAN TATAKRAMA YASADIPURA II (1760-1845) DALAM SERAT SASANASUNU:
Perpaduan Syaria’at Islam dengan Budaya Jawa

14.Dr. H. Abbas Pulungan
96310/DBT
IAIN Sumatera Utara Medan
10 Mei 2003
PERANAN DALIHAN NA TOLU DALAM PROSES INTERAKSI ANTARA NILAI-NILAI ADAT DENGAN ISLAM PADA MASYARAKAT MANDAILING DAN ANGKOLA TAPANULI SELATAN

15.Dr. Zikri Darussamin, M.Ag.
973079/S3
IAIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru
17 Mei 2003
INTERAKSI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT
(Studi Pelaksanaan Kewarisan Masyarakat Melayu
di Daerah Siak)

16.Dr. H. Shaleh Putuhena
79.3.08-B
IAIN Alauddin Ujung Pandang
19 Juni 2003
HAJI INDONESIA:
Suatu Kajian Sejarah Tentang Perjalanan dan Pengaruhnya pada Pertengahan Pertama Abad XX

17.Dr. Misri A. Muchsin, M.Ag.
993149/S3
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
26 Juli 2003
TASAWUF DI ACEH DALAM ABAD XX:
Studi Pemikiran Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba (1907-1983)

18.Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A.
87081/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2 Agustus 2003
ETOS KERJA ISLAMI (Telaah Psikologi)

19.Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.
943039/S3
STAIN Salatiga
16 Agustus 2003
POLITIK PENDIDIKAN AGAMA DALAM ERA PLURALISME (Telaah Historis atas Kebijaksanaan Pendidikan Agama Konfesional di Indonesia)

20.Dr. Amir Bin Mu’allim, M.A.
963060/S3
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
18 Agustus 2003
YURISPRUDENSI PERADILAN AGAMA
(Studi Pemikiran Hukum Islam di Lingkungan Pengadilan Agama Se-Jawa Tengah dan Pengadilan Tinggi Agama Semarang, 1991-1997)

21.Dr. H. Imam Chuseno,SH
96301/DBT
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
13 September 2003
Gerakan Sosial Kemasyarakatan, Dakwah, dan Pendidikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama
(Periode Muktamar NU ke-27 di Situbondo 1984 sampai dengan Muktamar ke 28 di Krapyak Yogyakarta 1990)

22.Dr. Muhammad Abdul Karim, M.A.
83021/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20 September 2003
PENGARUH ISLAM DALAM PEMBINAAN MORAL BANGSA DI INDONESIA
(Telaah Akulturasi Budaya Islam-Indonesia)

23.Dr. Lukman S.Thahir, M.Ag.
983109/S3
STAIN Datokarama Palu
27 September 2003
HARUN NASUTION (1919-1998): Interpretasi Nalar Teologis dalam Islam

24.Dr. Irfan Safrudin, M.Ag.
963049/S3
Unisba Bandung
4 Oktober 2003
KRITIK TERHADAP MODERNISME
(Studi Komparatif Pemikiran Jurgen Habermas dan Seyyed Hossein Nasr)

25.Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag.
90143/S3
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
11 Oktober 2003
PSIKOLOGI ISLAMI DAN PSIKOLOGI PASTORAL (Telaah Metodologi dalam SkemaTeoritis Psiko-Religius)

26.Dr. H. Muhibbin, M.Ag.
943033/S3
IAIN Walisongo Semarang
27 Desember 2003
TELAAH ULANG ATAS KRITERIA KESAHIHAN
HADIS-HADIS AL-JAMI’ AL-SHAHIH

27.Dr. Syaiful Akhyar Lubis, M.A.
88100/S3
IAIN Sumatera Utara Medan
24 Januari 2004
KONSELING ISLAMI DI PONDOK PESANTREN
(Studi tentang Peranan Kyai)

28.Dr. H. Fachri Syamsuddin
97315/DBT
IAIN Imam Bonjol Padang
13 Maret 2004
PEMBAHARUAN ISLAM DI MINANGKABAU AWAL ABAD XX: Studi terhadap Pemikiran Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdullah Ahmad, dan Syekh Abdul Karim Amrullah

29.Dr.Rodliyah Khuza’i, M.Ag.
933015/S3
Unisba Bandung
20 Maret 2004
EPISTEMOLOGI MOHAMMAD IQBAL DAN
CHARLES S. PEIRCE

(Suatu Kajian Perbandingan Pemikiran)
30.Dr. H. Imam Efendi, M.A.
90164/S3
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
17 April 2004
PEMBAHARUAN KURIKULUM MADRASAH ALIYAH: Implikasinya Terhadap Karakter Pendidikan Islam

31.Dr. Ali Masrur, M.Ag.
983111/S3
IAIN Sunan Gunung Djati Bandung
14 Mei 2004
ASAL USUL HADIS
(Telaah atas Teori Common Link G.H.A. Juynboll)

32.Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A.
87095/S3
IAIN Walisongo Semarang
31 Juli 2004
PSIKOLOGI SUFISTIK DAN HUMANISTIK:
Studi Pemikiran al-Gazali dan Abraham Maslow serta Implikasinya Bagi Pengembangan Pemikiran Psikologi

33.Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.
NIM : 963058/S3
UMY
Kamis, 19 Agustus 2004
KONSTRUKSI GENDER DALAM PEMIKIRAN MUFASIR INDONESIA MODERN
(Hamka dan M. Hasbi ash-Shiddieqy)

34.Dr. Suryadi, M.Ag
973088 / S3
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
23 Oktober 2004
METODE PEMAHAMAN HADIS NABI
(Telaah Pemikiran Muhammad al-Ghazali dan Yusuf
al-Qardhawi)

35.Dr. H. Muhtarom, H.M
97314/DBT
IAIN Walisongo Semarang
11 Desember 2004
PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DI ERA GLOBALISASI: Kasus Reproduksi Ulama di Kabupaten Pati Jawa Tengah

36.Dr. Abd. Rachman Assegaf, M.Ag
943023/S3
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
15 Desember 2004
PERGESERAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL BIDANG AGAMA ISLAM 1942-1944

37.Dr. Ahmad Faisal, M.Ag
01.300.006/S3
IAIN Alauddin Ujungpandang
29 Desember 2004
REKONSTRUKSI SYARIAT ISLAM
(Kajian tentang Pandangan Ulama Terhadap Gagasan Penegakan Syariat Islam oleh KPPSI di Sulsel)

38.Dr. Nurun Najwah, M.Ag.
983100/S3
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
5 Januari 2005
REKONSTRUKSI PEMAHAMAN HADIS-HADIS PEREMPUAN

39.Dr. Muslich Shabir, M.A
92003/S3
IAIN Walisongo Semarang
8 januari 2005
KITAB AZ-ZAKAH DALAM NASKAH SABIL
AL-MUHTIDIN KARYA SYEKH MUHAMAD ARSYAD AL-BANJARI: Analisis Intertekstual dan Suntingan Teks

40.Dr. Alamsyah, M.Ag
993142/s3
IAIN Lampung
22 Januari 2005
SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM DALAM PEMAHAMAN SHAHRUR DAN AL-QARDAWI

41.Dr. H.M. Djunaidi Ghody
96307/DBT
UIN Malang
12 Pebruari 2005
STUDI KASUS PERKEMBANGAN KURIKULUM
FAK. TARBIYAH IAIN SUNAN AMPEL DI MALANG 1960-1995

42.Dr. Muhyar Fanani, S.Ag, M.Ag
IAIN Walisongo Semarang
26 Maret 2005
PEMIKIRAN MUHAMMAD SYAHRUR DALAM ILMU USUL FIKIH: Teori Hudud sebagai Alternatif Pengembangan Ilmu Usul Fikih

43.Dr. Zulkarnaini, M.A.
983097/S3
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
14 Mei 2005
YAHUDI DALAM AL-QUR’AN
(Teks, Konteks, dan Diskursus Pluralisme Agama)

44.Dr. Mansur, M.Ag.
983117/S3
STAIN Salatiga
28 Mei 2005
PEMIKIRAN SAYID USMAN TENTANG AKHLAK MANUSIA (Konsep Akhlak dan Implikasinya bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan)

45.Dr. H. Fachrudin, M.A.
89130/S3
STAIN Salatiga
Disertasi hasil perbaikan diserahkan tgl. 29 Juni 2005
MUNAFIK DALAM AL-QUR’AN
(Studi Pemikiran Sayyid Qutb dan Muhammad Husain Al-Tabataba’i)

46.Dr. Sutrisno, M.Ag.
963052
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
29 Juli 2005
NEOMODERNISME FAZLUR RAHMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
(Telaah Metodologis- Epistemologis)

47.Dr. Salmaeni Yelli, M.Ag.
953043
IAIN Pekan Baru
30 Juli 2005
IMAJINASI DAN PERANNYA TERHADAP PERSEPSI (Studi terhadap Pemikiran Ibn Sina dan Jean-Paul Sartre)

48.Dr. H. Yusuf Suyono, M.Ag.
933003
IAIN Walisongo Semarang
5 Agustus 2005
STUDI PERBANDINGAN RISALAT AL-TAUHID DAN THE RECONS-TRUCTION OF RELIGIOUS THOUGHT IN ISLAM

49.Dr. Zainuddin MZ., Lc., M.Ag.
973073
IAIN Sunan Ampel Surabaya
6 Agustus 2005
AL-IDRAJ DALAM MATAN HADIS DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KAJIAN KEISLAMAN

50.Dr. H.M. Muslich KS., M.Ag.
993133
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
12 Agustus 2005
MORAL ISLAM DALAM SERAT PIWULANG PAKUBUWANA IV

51.Dr. Tobroni, M.Si.
00.3.003
Universitas Muhammadiyah Malang
20 Agustus 2005
PERILAKU KEPEMIMPINAN SPIRITUAL DALAM PENGEMBANGAN ORGANISASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN:
Kasus Lima Pemimpin Pendidikan di Kota Ngalam

52.Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag.
NIM: 983120/S3
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
22 Oktober 2005
PENDIDIKAN ISLAM PESANTREN
(Studi Komparatif Struktur Keilmuan Kitab-kitab Kuning dan Implementasinya di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta)

53.Dr. H. Nasir Baki, M.A.
NIM: 03.3.384-BR
UIN Alauddin Ujungpandang
29 Oktober 2005
POLA PENGASUHAN ANAK DALAM KELUARGA BUGIS (Studi tentang Perubahan Sosial dalam Keluarga Rappang di Sulawesi Selatan)

54.Drs. Miftahul Huda, M.Ag.
NIM.963051/S3
IAIN Mataram
3 Desember 2005
PLURALISME HUKUM ISLAM
(Kajian atas Kitab Al-Mizan Al-Kubra Karya Asy-Sya’rani [1492—1565])

55.Drs. H. Mohd. Sjamsoeri Joesoef, M.A.
NIM: 83008/S3
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
3 Desember 2005
KITAB TAFSIR MAFATIH AL-GAIB
(Studi Pemikiran Al-Razi tentang Nasakh Al-Qur’an)

Jumat, 06 November 2009

PERKEMBANGAN LITERATUR HADIS

PERKEMBANGAN LITERATUR HADIS

Vol. 3, Nomor 9 Januari-Juni 2006 ISSN 1412-372X

Jurnal Ilmu Agama Islam

KHAZANAH


Pemimpin Umum

Afif Muhammad
Ketua Dewan Editor
Jaih Mubarok
Editor Ahli
A. Qodry Azizy (IAIN Wali Songo Semarang)
Din Syamsuddin (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Idris Zakaria (UKM Kuala Lumpur)
Jusman Iskandar (UNPAD Bandung)
M. Amin Abdullah (UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta)
Penyunting Pelaksana
A. Tafsir, Dadang Kahmad, Etin Anwar,
Fisher Zulkarnaen, Juhaya S. Praja
Nurwajah Ahmad EQ
ALAMAT
Jl. Raya A.H. NASUTION No. 105 Bandung 40614
Telp. 022-7805491 Fax. 022-7800249
E-Mail: Jurnal_Khazanah@yahoo.com
Terbit pertama tahun 2002; Frekwensi terbit dua kali setahun

KHAZANAH: Jurnal Ilmu Agama Islam adalah jurnal ilmiah yang telah terakreditasi berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI (SK Dirjen Dikti Nomor 39/DIKTI/Kep/2004). KHAZANAH has been accredited by Ministry of Natinal Education Republic of Indonesia as an academic journal.


Vol 3, Nomor 9, Januari-Juni 2006 ISSN 1412-372X

KHAZANAH
Jurnal Ilmu Agama Islam


Daftar Isi

Artikel
1-17 Muh. Syamsuri Yusuf
Perkembangan Literatur Ulumul Quran
19-41 Ali Masrur Abdul Ghafar
Perkembangan Literatur Hadis
43-72 Moh. Najib
Al-Naqd sebagai Metode Pengembangan Studi
Hadis
73-91 Munir
Ibnu Hazm’s Method of Study of Christianity
93-108 Sukriadi Sambas
Al-Sayyid Ahmad Khan: Dirasat fi al-Rajul al-Da’wah
Ila Allah Ta’ala
109-120 Ahmad Hasan Ridwan
Rationalist Vis A Vis Traditionalist’s Perspective of Qiyas: Quo Vadis?
121-135 Jaih Mubarak
Nusyuz and Domestic Violence in Indonesia: A Study of Law No. 23, 2004
137-152 Juhaya S. Praja
Islam and Counter Terrorism
Penelitian
153-186 Afif Muhammad
Posisi Muhammad Asad dalam Khazanah
Tafsir Quran Berbahasa Inggris
Tinjauan Buku
187-203 Malki Ahmad Nasir
Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab

Senin, 14 September 2009

Doa Kumail bin Ziyad

Doa Kumail bin Ziyad

Ya Allah,
Aku memohon kepada-Mu,
dengan rahmat-Mu yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu,
dan karenanya merunduk segala sesuatu,
dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu,
dengan kekuatan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu,

dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu,
dengan wajah-Mu yang kekal setelah punah segala sesuatu,
dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesuatu,
dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu,
dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu.

Wahai Cahaya.
Wahai Yang Mahasuci.
Wahai Yang Awal dari segala yang awal.
Wahai Yang Akhir dari segala yang akhir.

Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana.
Ya Allah,
ampuni dosa-dosaku yang merusak karunia.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menahan do`a.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala`.
Ya Allah,
ampunilah dosa yang telah kulakukan
dan segala kesalahan yang telah kukerjakan.

Ya Allah,
aku datang menghampiri-Mu dengan zikir-Mu,
aku memohon pertolongan -Mu dengan diri-Mu,
aku memohon kepada-Mu dengan kemurahan-Mu,
dekatkan daku keharibaan-Mu,
sempatkan daku untuk bersyukur kepada-Mu,
bimbinglah daku untuk selalu mengingat-Mu.

Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu dengan permohonan
hamba yang rendah, hina dan ketakutan, maafkan daku, sayangi daku,
dan jadikan daku ridha dan senang kepada pemberian-Mu.

Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu,
dengan permohonan orang yang berat keperluannya,
yang ketika kesulitan menyampaikan hajatnya kepada-Mu,
yang besar kedambaannya untuk meraih apa yang ada disisi-Mu.

Ya Allah,
Maha besar kekuasaan-Mu, Maha tinggi kedudukan-Mu,
Selalu tersembunyi rencana-Mu,
Selalu tampak kuasa-Mu, selalu tegak kekuatan-Mu,
Selalu berlaku kodrat-Mu, tak mungkin lari dari pemerintahan-Mu.

Ya Allah,
tidak kudapatkan pengampun bagi dosaku,
tiada penutup bagi kejelekanku,
tiada yang dapat menggantikan amalku yang jelek dengan kebaikan, melainkan Engkau.

Tiada Tuhan kecuali Engkau.
Maha suci Engkau dengan segala puji-Mu.
Telah aku aniaya diriku, telah berani aku melanggar,
karena kebodohanku, tetapi aku tetap tenteram,
karena bersandar pada sebutan-Mu dan karunia-Mu kepadaku.

Ya Allah, Pelindungku,
betapa banyak kejelekkan diriku telah Kau tutupi,
betapa banyak malapetaka telah Kau atasi,
betapa banyak rintangan telah Kau singkirkan,
betapa banyak bencana telah Kau tolak,
betapa banyak pujian baik yang tak layak bagiku telah Kau sebarkan.

Ya Allah,
besar sudah bencanaku,
berlebihan sudah kejelekan keadaanku,
rendah benar amal-amalku,
berat benar belenggu (kemalasanku).
Angan-angan panjang telah menahan manfaat dari diriku,
dunia dengan tipuannya telah memperdayaku,
dan diriku (telah terpedaya) karena ulahnya,
dan karena kelalaianku.

Wahai Junjunganku,
aku memohon kepada-Mu dengan seluruh kekuasan-Mu,
jangan Kau tutup do`aku, karena kejelekan amal dan perangaiku,
jangan Kau ungkapkan rahasiaku yang tersembunyi
yang telah Engkau ketahui,

Jangan Engkau segerakan siksa kepadaku karena perbuatan buruk
dan kejelekan yang kulakukan dalam kesendirianku,
karena kebiasaanku melanggar batas, dan kebodohanku,
karena banyaknya nafsuku dan kelalaianku.

Ya Allah,
dengan kemulian-Mu,
sayangi aku dalam segala keadaan, kasihi aku dalam segala perkara.

Ilahi Rabbi,
kepada siapa lagi selain Engkau,
aku memohon dihilangkan kesengsaraanku, dan diperhatikan urusanku.

Ilahi Pelindungku,
Engkau kenakan padaku hukum,
tetapi di situ aku ikuti hawa nafsuku;
aku tidak cukup waspada terhadap tipuan (setan) musuhku,
maka terkecohlah aku lantaran nafsuku,
dan berlakulah ketentuan-Mu atas diriku
ketika kulanggar sebagian batas yang Kau tetapkan bagiku,
dan kubantah sebagian perintah-Mu.
Namun bagi-Mu segala pujiku atas semuanya itu;
Tiada alasan bagiku (menolak) ketentuan yang Kau tetapkan bagiku,
demikian pula hukum dan ujian yang menimpaku.
Aku datang kini menghadap-Mu,

Ya Ilahi …,
dengan segala kekuranganku,
dengan segala kedurhakaanku (pelanggaranku),
sambil menyampaikan pengakuan dan penyesalanku
dengan hati yang hancur luluh,
memohon ampun dan berserah diri,
dengan rendah hati mengakui segala kenistaanku.

Karena segala cacatku ini,
tiada aku dapatkan tempat melarikan diri,
tiada tempat berlindung untuk menyerahkan urusanku,
selain kepada kehendak-Mu untuk menerima pengakuan kesalahanku
dan memasukkan aku ke dalam kesucian kasih-Mu.

Ya Allah,
terimahlah pengakuanku, kasihanilah beratnya kepedihan,
lepaskan aku dari kekuatan belengguku.

Ya Rabbi,
kasihanilah kelemahan tubuhku,
kelembutan kulitku dan kerapuhan tulangku.

Wahai Tuhan yang mula-mula menciptakanku,
menyebutku, mendidikku, memperlakukanku dengan baik, dan memberiku kehidupan,
karena permulaan karunia-Mu, karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan,
berilah aku karunia-Mu.

Ya Allah,
Junjungan-ku, Pemelihara-ku,

Apakah Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu,
setelah aku mengesakan-Mu,
setelah hatiku tenggelam dalam makrifat-Mu,
setelah lidahku bergetar menyebut-Mu,
setelah jantungku terikat dengan cinta-Mu,
setelah segala ketulusan pengakuan-ku dan permohonan-ku,
seraya tunduk bersimpuh pada rububiyah-Mu?

Tidak,
Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang engkau ayomi,
atau menjauhkan orang yang Engkau dekatkan,
atau menyisikan orang yang Engkau naungi,
atau menjatuhkan bencana pada orang
yang Engkau cukupi dan Engkau sayangi,
aduhai diriku!,

Junjungan-ku, Tuhan-ku, Pelindung-Ku!,
Apakan Engkau akan melemparkan ke neraka wajah-wajah yang tunduk rebah karena kebesaran-Mu,
lidah-lidah yang dengan tulus mengucapkan ke-Esaan-Mu dan dengan pujian mensyukuri nikmat-Mu,
kalbu-kalbu yang dengan sepenuh hati mengakui uluhiyah-Mu,
hati nurani yang dipenuhi ilmu tentang-Mu,
sehingga bergetar ketakutan,
tubuh-tubuh yang telah biasa tunduk untuk mengabdi-Mu dan dengan merendah memohon ampunan-Mu ? Tidak sedemikian itu persangkaan kami tentang-Mu,
padahal telah diberitakan kepada kami tentang keutamaan-Mu.

Wahai pemberi karunia, wahai pemelihara!

Engkau mengetahui kelemahanku
dalam menanggung sedikit dari bencana dan siksa dunia
serta kejelekan yang menimpa penghuninya;
Padahal semua (bencana dan kejelekan) itu singkat masanya, sebentar lalunya, dan pendek usianya.
Maka apakah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhirat dan kejelekan hari akhir yang besar,
bencana yang panjang masanya dan kekal menetapnya, serta tidak diringankan bagi orang yang menanggungnya;
sebab semuanya tidak terjadi, kecuali karena murka-Mu, karena balasan-Mu.
Inilah, yang bumi dan langit pun tak sanggup memikulnya.

Wahai Junjungan-Ku,
bagaimana mungkin aku (menanggungnya)?,
padahal aku hamba-Mu yang lemah, rendah, hina, malang, dan papa.
Urusan apalagi kiranya yang akan aku adukan kepada-Mu ?

Mestikah aku menangis menjerit, karena kepedihan dan beratnya siksa, atau karena lamanya cobaan ?
Sekiranya Engkau siksa aku beserta musuh-musuh-Mu,
dan Engkau himpunkan aku bersama penerima bencana-Mu,
dan Engkau ceraikan aku dari para kekasih dan kecintaan-Mu, ohh… seandainya aku.

Ya Ilahi,
Junjungan-ku, Pelindung-ku, Tuhan-ku.
Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu,
mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu?

Dan seandainya
aku dapat bersabar menahan panas api-Mu,
mana mungkin aku bersabar untuk tidak melihat kemulyaan-Mu?
Mana mungkin
aku tinggal di neraka, padahal harapanku hanya maaf-Mu?

Demi kemuliaan-Mu,
wahai Junjungan-Ku, Pelindung-Ku!
Aku bersumpah dengan tulus;
sekiranya Engkau biarkan aku berbicara di sana, di tengah penghuninya, aku akan menangis, tangisan mereka yang menyimpan harapan,
aku akan menjerit, jeritan mereka yang memohon pertolongan,
aku akan merintih, rintihan yang kekurangan.
Sungguh,
aku akan menyeru-Mu, di manapun Engkau berada.

Wahai Pelindung kaum mukminin,
Wahai tujuan harapan kaum arifin,
Wahai lindungan kaum yang memohon perlindungan,
Wahai kekasih kalbu para pencinta kebenaran,
Wahai Tuhan seru sekalian alam.

Maha suci Engkau Ilahi, dengan segala puji-Mu !
Akankah Engkau dengar di sana suara hamba muslim
yang terpenjara dengan keingkarannya,
yang merasakan siksanya karena kedurhakaannya,
yang terperosok ke dalam nya karena dosa dan nistanya;
ia merintih kepada-Mu dengan mendambakan rahmat-Mu,
ia menyeru-Mu dengan lidah ahli tauhid-Mu,
ia bertawasul kepada-Mu dengan rububiyah-Mu,

Wahai Pelindungku!
Bagaimana mungkin ia kekal dalam siksa,
padahal ia mengharap kebaikan-Mu yang terdahulu.
Mana mungkin neraka menyakitinya,
padahal ia mendambakan karunia dan kasih-Mu.
Mana mungkin nyalanya membakarnya,
padahal Engkau dengar suaranya dan Engkau lihat tempatnya,
Mana mungkin jilatan api mengurungnya,
padahal Engkau mengetahui kelemahannya.
Mana mungkin ia jatuh bangun di dalamnya,
padahal Engkau mengetahui ketulusannya.
Mana mungkin Zabaniyah menghempasnya,
padahal ia memanggil-manggil -Mu: Ya Rabbi!
Mana mungkin ia mengharapkan karunia kebebasan dari padanya, lalu Engkau meninggalkannya di sana,

Tidak,
tidak demikian sangkaku kepada-Mu.
Tidak mungkin seperti itu perlakuan-Mu terhadap kaum beriman,
melainkan kebaikan dan karunialah yang Engkau berikan.
Dengan yakin aku berani berkata,
kalau bukan karena keputusan-Mu
untuk menyiksa orang yang mengingkari-Mu dan putusan-Mu
untuk mengekalkan di sana orang-orang yang melawan-Mu,
tentu Engkau jadikan api seluruhnya sejuk dan damai,
tidak akan ada lagi di situ tempat tinggal
dan menetap bagi siapapun.
Tetapi Maha Kudus nama-nama-Mu,

Engkau telah bersumpah,
untuk memenuhi neraka dengan orang-orang
kafir dari golongan Jin dan Manusia seluruhnya.
Engkau akan mengekalkan di sana kaum durhaka.
Engkau dengan segala kemuliaan puji-Mu,

Engkau berkata ,
setelah menyebutkan nikmat yang Engkau berikan
“Apakah orang mukmin seperti orang kafir, sungguh tidak sama mereka itu”.

Ilahi, Junjunganku,
Aku memohon kepada-Mu,
dengan kodrat yang telah Engkau tentukan,
dengan qadha yang telah Engkau tetapkan dan putuskan,
dan yang telah Engkau tentukan berlaku pada
orang-orang yang dikenai;

Ampunilah bagi-ku, di malam ini, di saat ini,
semua nista yang pernah aku kerjakan,
semua dosa yang pernah aku lakukan,
semua kejelekan yang pernah aku rahasiakan,
semua kedunguan yang pernah aku amalkan,
yang aku sembunyikan atau tampakkan,
yang aku tutupi atau yang aku tunjukkan.
Ampunilah semua keburukan
yang telah Engkau suruh malaikat mencatatnya.
Mereka yang telah Engkau tugaskan untuk merekam

Segala yang ada padaku,
mereka yang Engkau jadikan saksi-saksi
bersama seluruh anggota badanku,
dan Engkau sendiri mengawal di belakang mereka,
menyaksikan apa yang tersembunyi pada mereka.
Dengan rahmat-Mu, Engkau sembunyikan kejelekan itu
Dengan karunia-Mu, Engkau menutupinya.
Perbanyaklah bagianku pada setiap kebaikan yang Engkau turunkan, atau setiap karunia yang Engkau limpahkan,
atau setiap keberuntungan yang Engkau sebarkan,
atau setiap rizki yang Engkau curahkan,
atau setiap dosa yang Engkau ampunkan,
atau setiap kesalahan yang Engkau sembunyikan.

Ya Rabbi . Ya Rabbi. Ya Rabbi.
Ya Ilahi, Junjunganku, Pelindungku, Pemilik nyawaku!
Wahai Dzat yang ditangan-Nya ubun-ubunku!
Wahai yang mengetahui kesengsaraan dan kemalanganku!
Wahai yang mengetahui kefakiran dan kepapaanku!

Ya Rabbi. Ya Rabbi. Ya Rabbi.
Aku memohon kepada-Mu dengan kebenaran dan kesucian-Mu,
dengan keagungan sifat dan Asma`-Mu
Jadikan waktu-waktu malam dan siangku,
dipenuhi dengan zikir kepada-Mu,
dihubungkan dengan kebaktian kepada-Mu,
diterima amalku di sisi-Mu,
sehingga jadilah amal dan wiridku
seluruhnya wirid yang satu,
dan kekalkanlah selalu keadaanku dalam berbakti pada-Mu.

Wahai Dzat yang kepada-Nya aku percayakan diriku!
yang kepada-Nya aku adukan keadaanku!

Ya Rabbi. Ya Rabbi. Ya Rabbi.
Kokohkan anggota badanku untuk berbakti kepada-Mu.
Teguhkan tulang-tulangku untuk melaksanakan niatku.
Karuniakan untuk-ku kesungguhan untuk bertakwa kepada-Mu, kebiasan untuk meneruskan bakti pada-Mu,
sehingga aku bergegas menuju-Mu bersama para pendahulu
dan berlari ke arah-Mu bersama orang-orang terkemuka,
merindukan dekat pada-Mu bersama yang merindukan-Mu.
Jadikan daku dekat dengan-Mu, dekatnya orang-orang yang ikhlas
dan takut pada-Mu, takutnya orang-orang yang yakin.
Sekarang aku berkumpul di hadirat-Mu bersama kaum mukminin.

Ya Allah!
siapa yang bermaksud buruk padaku, tahanlah dia,
siapa yang memperdayakan-ku, gagalkanlah dia.
Jadikan aku hamba-Mu yang paling baik nasibnya di sisi-Mu.
yang paling dekat kedudukannya dengan-Mu,
yang paling istimewa tempatnya di dekat-Mu,

Sungguh,
semua ini tidak akan tercapai, kecuali dengan karunia-Mu.
Limpahkan kepadaku kemurahan-Mu,
sayangi aku dengan kebaikan-Mu,
jaga diriku dengan rahmat-Mu,
gerakkan lidah-ku untuk selalu berzikir kepada-Mu,
penuhi hatiku supaya selalu mencintai-Mu,
berikan padaku yang terbaik dari ijabah-Mu,
hapuskan bekas kejatuhanku,

Ampuni ketergelinciranku.
Sungguh,
telah Engkau wajibkan hamba-hamba-Mu beribadah kepada-Mu,
Engkau perintahkan mereka untuk berdoa kepada Mu,
Engkau jaminkan pada mereka ijabah-Mu.

Karena itu, kepada-Mu,
Ya Rabbi,
aku hadapkan wajah-ku, kepada-Mu,

Ya Rabbi,
aku ulurkan tangan-ku, demi kebesaran-Mu,
perkenankan doaku,
sampaikan daku pada cita-citaku,
jangan putuskan harapanku akan karunia-Mu,
lindungi aku dari kejahatan Jin dan Manusia
musuh-musuhku.

Wahai yang Maha cepat ridhanya!
Ampunilah orang yang tidak memiliki apapun kecuali doa,
karena Engkau perbuat apa kehendak-Mu.

Wahai yang namanya adalah obat,
yang zikir-Nya adalah penyembuhan,
yang ketaatan kepada-Nya adalah kekayaan
Kasihanilah orang yang hartanya hanya harapan,
dan senjatanya hanya tangisan.

Wahai Penabur karunia!
Wahai Penolak bencana!

Wahai Cahaya,
yang menerangi mereka
yang terhempas dalam kegelapan,

Wahai yang Maha Tahu tanpa diberi tahu,
sampaikan rahmat-Mu
kepada Muhammad saw. dan Keluarga Muhammad.

Lakukan pada-ku
apa yang layak bagi-Mu.

Semoga Allah
melimpahkan kesejahteraan
pada Rasul-Nya serta para Imam yang mulia dari Keluarganya;
Sampaikan salam kepada mereka.

Minggu, 30 Agustus 2009

Amalan untuk Mendatangkan Rizki

Bagi yang ingin mendapatkan kemudahan dalam mencari rizki,
hendaknya membaca dzikir di bawah ini:

Astaghfirullahal 'adhim, 33 kali
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad, 33 kali
La ilaha Illa Allah Muhammadur Rasulullah, 33 kali
Ya Allah Ya Rahman Ya Allah Ya Rahim, 33 kali

Amalan ini benar-benar berdasarkan Alquran dan al-Hadis
Dibaca setiap habis shalat fardhu dan shalat malam
Lebih banyak tentu lebih baik dengan hitungan 33 atau 101 kali
Tentu saja harus disertai dengan bekerja keras.
Selamat mencoba semoga berhasil dan mendapat kemudahan
dalam mencari rizki yang halal. amin

Jumat, 13 Maret 2009

Dzikir 99 Asmaul Husna

Dzikir 99 Asmaul Husna

Tidak semua orang muslim menyadari betapa hebatnya energi dan kekuatan dzikir 99 asmaul husna (nama-nama yang terbaik), meskipun di dalam Alquran dikatakan dengan jelas:
a'udzu billahi mina sy-syaythanir rajim
wa lillahi l-asmaul husna, fad'uhu biha
Artinya:
Allah memiliki nama-nama yang terbaik, maka berdoalah dengan menyebut nama-nama-Nya.

Sebagai contoh:
Siapa yang ingin dibukakan ilmu dan makrifat, hendaknya ia banyak membaca Ya Fattah (Wahai Yang Maha Membuka) Ya Alim (Wahai Yang Maha Mengetahui)

Siapa yang ingin mendapatkan rizki yang berlimpah, hendaknya ia banyak membaca Ya Razzaq (Wahai Yang Maha Pemberi Rizki)

Siapa Yang ingin kemulyaan, hendaknya ia banyak membaca Ya Karim (Wahai Yang Maha Mulia)

Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, hendaknya ia membaca Ya Muhyi (Wahai Yang Maha Menghidupkan)

Siapa yang ingin tobatnya diterima oleh Allah, maka hendaknya ia membaca Ya Tawwab (Wahai Yang Maha Penerima Taubat) berulang kali.

Siapa yang ingin dikaruniai martabat dan harga diri di mata manusia, maka bacalah Ya Malikal Mulki (Wahai Yang Maha Memiliki Kerajaan Yang Abadi) berulang kali.

Siapa yang berada dalam keadaan sakit, kesulitan, miskin, kesepian, merana, terkena bencana, dan kesediahan, hendaknya ia banyak membaca Ya Lathif (Wahai Yang Maha Lembut). Insya Allah, berbagai keadaan yang tidak menyebangkan itu akan berbalik menjadi keselamatan, kebahagiaan, dan kemaanan.

Dzikir ini saya Ijazahkan untuk siapa saja yang membaca situs ini dan mau mengamalkan dzikir asmaul husna ini dengan ikhlas karena Allah swt.

Dzikir ini sebaiknya dibaca setelah shalat fardhu dan shalat malam dengan hitungan 33, 100 sampai 1000 kali. Lebih baik bila dibarengi dengan puasa senin kamis.

Tentu saja ini bukan sekedar teori. Oleh karena itu, anda sendiri harus mencoba dan mempraktekkannya.